SELAMAT DATANG DI GREAT BUTON WEBLOG

Weblog ini akan memperkenalkan kepada anda tentang keeksotikan daerah-daerah di Buton dari sisi kebudayaan, tradisi, kesenian, dan alam. Buton yang dimaksud ialah Buton secara umum yang meliputi Kota Baubau, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Buton, dan Kabupaten Buton Utara di Provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia.
| 0 komentar ]

Teluk lasongko merupakan salah sebuah teluk di kawasan Kabupaten Buton tepatnya di Kecamatan Lakudo, walaupun sesungguhnya Teluk Lasongko berada di dua kecamatan yakni Lakudo sekitar 75 % dan Kecamatan Mawasangka sekitar 25 %. Teluk Lasongko yang mempunyai luas sekitar 13,6 persegi ini memiliki potensi yang sangat besar. Hampir keseluruhan ekosistem pesisir ada di sana, diantaranya padang lamun dan terumbu karang,.selain itu kekayaan alam laut yang melimpah di Teluk Lasongko juga tidak terlepas dari adanya kawasan hutan mangrove. Seperti kita ketahui hutan mangrove adalah hutan tropis yang hidup dan tumbuh di sepanjang pantai berlumpur atau berpasir dan selalu digenangi air laut secara berkala memiliki peran yang sangat penting karena merupakan suatu ekosistem dengan multi fungsi yang penting bagi kehidupan. Hutan mangrove merupakan sumber kehidupan bagi biota-biota laut utamanya ikan, kepiting, udang dan biota laut lainnya.

Sumber

| 0 komentar ]

Bagi Anda yang menyukai diving dan belum pernah merasakan sensai diving di dalam goa, maka sebaiknya Anda harus mencoba untuk berkunjung ke Goa Loba-Loba. Goa Loba-Loba merupakan salah satu site penyelaman yang terletak di Waara, Kabupaten Buton, Sulawesi tenggara. Untuk Berkunjung ke tempat ini dibutuhkan waktu 10-15 menit dari Kota Baubau menggunakan perahu. Kedalam Goa bawah laut yang mencapai 27 meter menawarkan pemandangan tersendiri bagi mereka pencinta olah raga bawah air (diving), tetapi dibutuhkan skill khsusus untuk dapat menyelam di site ini.

sumber

| 0 komentar ]

Di Kabupaten Buton, yang merupakan wilayah Kesultanan Buton dahulu, terdapat banyak situs sejarah dan hingga kini masih terjaga dengan baik, sebut saja Puncak Siontapina, yang merupakan Benteng Pertahanan sekaligus Markas Rahasia sang Pejuang Patriotis, penentang kedzaliman imrealisme Belanda saat itu, yang bernama Laode Himmayatuddin Muhammad Saidi Ibnu Sulthaani Liyaluddin Ismail  (Oputa Yikoo) atau La Karambau, merupakan satu-satunya Tokoh yang naik Tahta dan memerintah sebanyak dua periode, yakni Sultan Buton ke 21 dan 23. 

Selain gigih dalam melakukan perlawanan terhadap Belanda, Himayatuddin juga menekankan pentingnya kelestarian hutan yang menunjang aktivitas kehidupan masyarakat pengikutnya saat itu, sehingga disekitaran Puncak Siontapina ditetapkan sebagai Kawasan Hutan Adat yang disebut Kaombo dengan tujuan agar hutan yang berada disekitar Puncak Siontapina tetap terpeliharan dan terjaga keasliannya. Sanksi adat menanti untuk mereka yang m elanggar, yakni berupa denda atau menanam kembali pohon yang ditebang dengan beberapa pohon yang lain, bahkan ada sanksi berat untuk mereka yang tertangkap tangan melakukan pengrusakan hutan yaitu diasingkan kedaerah lain. Wasiat inilah yang masih terus dijalankan oleh para pengikutnya yang tersebar di Wasuamba, Labuandiri, Kamaru dan Lawele.

Masyarakat adat Wasuamba sebagai kaanana ompo Sultan Himayatuddin masih memeliharan dan menjalankan wasiat ini, maka setiap tahunnya setelah Idul Fitri usai, Syara Matanaeyo – Sukanaeyo, Labuandiri Wasuamba akanberkumpul untuk bermusyawarah membicarakan prosesi adat tahunan yang disebut dengan Tutura yang akan diselenggarakan dipuncak bukit Siontapina. Tutura ini akan berlangsung selama beberapa hari itulah sebabnya masyarakat adat (Tontau, Pau, dan Syara) beserta rombongan yang akan menuju puncak siontapina akan mempersiapkan perbekalan selama disana. Proses ini mereka janlankan penuh dengan semangat gotong royong sehingga perjalan menuju puncak siontapina yang berjarak kurang lebih 50 Km memasuki hutan belantara menjadi ringan dan ramai.

Untuk menuju puncak Siontapina kita berjalan melalui jalur Labuandiri (kurang lebih 40 Km) atau melalui jalur favorit yakni desa Wasuamba yaang memiliki jarak tempuh lebih pendek, diperjalanan  kita akan disuguhkan pemandangan alam yang asri dan menakjubkan, aliran sungai yang bersih dan hamparan ladang tradisional yang menghijau, mendaki beberapa bukit, menyeberangi sungai. Disepanjang jalan kita akan melihat aneka flora dan fauna, dibeberapa tempat aneka satwa ini mulai terusik kehidupannya disebabkan kehadiran beberapa perusahaan pertambangan yang mulai memporak-porandakan hutan disekitar Puncak Siotantapina. Diperjalan, kita juga dapat menangkap udang untuk makan siang sambil beristrahat diantara pohon yang rindang, perjalanan ini dapat kita tempuh dalam waktu satu hari.

Memasuki Puncak siontapina kita harus memakai sarung dan songkok, tidak diperknankan memakai celana panjang dan alas kaki. Suasananya terasa seperti zaman dahulu. Di Puncak Siontapina, kita akan terpesona dengan pemandangan alam yang menakjubkan, selain itu adanya benteng alam berbentuk segita 3 semakin membuat kita takjub akan sistem pertahanan Himayatuddin saat itu, Benteng di sisi Timur bernama Wantalao dengan kedalama tebing  sekitar 1 km (tegak lurus 180o), di tempat ini kita melihat langsung laut banda yang merupakan jalur pelayaran nasional dan internasional, Kepulauan Wakatobi, Pasarwajo, Teluk Kamaru. 

Sedangkan sisi Utara terdapat benteng Alam yang bernama Lakodo, ditempat ini kita akan melihat teluk Lawele, Hamparan hutan Lambelu, sungai Kalata yang bermuara di Wakantolalo Perbatasan Kec. Wolowa dengan Kec. Siontapina. Disisi Barat terdapat benteng alam yang disebut Wamoinondo, ditempat inilah kita akan melihat langsung ke arah Sora wolio dan sekitarnya. Selainitu, di puncak siontapina kita akan menyaksikan beberapa situs, seperti Lawana Wasuamba, Uwe Pangalasa, Quba Oputa Yikoo, Batu Banawa, Permandian Waode Kulisusu serta beberapa meriam dan situs lainnya. 

elain pemandangan alamnya yang menakjubkan, kita juga akan disuguhi beberapa atraksi dan prosesi adat yang disebut Tutura, dimulai dengan Prosesi Samburea yang berarti membersihkan, secara kasat mata kita akan menyaksikan prosesi pembersihan beberapa situs seperti pekangkiloana Batubanawa, Pembersihan Permandaian Waode Kulisisusu, pembersihan  Quba Oputa Yikoo, pembersihan dan ziarah ke beberapa makam yang terdapat di puncak Siontapina. Pada hari Samburea, semua orang diwajibkan memakain pakaian berwarna hijau, ibarat telur ayam, Samburea adalah cangkak luarnya. Hakekatnya Wallahu allamu.

Di hari kedua, Prosesi adat disebut dengan Sangka (Penyempurna) yang diawali dengan ritual mendirikan tiang sangka oleh 16 orang anggota syara Matanaeo Sukanaeo, dalam prosesi ini kita juga akan menyaksikan persembahan tarian Moose di atas batu banawa yang dimainkan oleh remaja perempuan yang belum gadis (belum haid), dilanjutkan denganTarian Linda, Mangaru, Pomunsei dan Manca serta prosesi pemberian makan kepada anak yatim piatu. Pada hari ini semua orang akan berpakain serba putih, seumpama telur ini adalah lapisan kedua, putih telur itu sendiri, hakekatnya Wallahu alamu. 

Hari ketiga dari Prosesi adat merupakan puncak dari segala kegiatan Tutura di puncak siontapina, inilah yang disebut matano atau prosesi  Pemutaran Payung. Payung keselamatan Negeri Butuuni,  dihari ini masyarakat adat akan berkumpul disatu tempat yang disebut lembono wite, duduk bersama mendengarkan nasehat dari Kapitalau Lawele dan dilanjutkan dengan berjabat tangan dengan beberapa Leluhur Buton yang hadir dengan jalan “Pobangka” pada Jasad yang telah dipersiapkan oleh Syara Matanaeo Sukanaeo. Di hari ini kita akan menyaksikan beberapa kejadian diluar akal sehat kita namun itulah yang menjadikan Siontapina menjadi berbeda dengan sangia lain di Buton.

Orang-orang yang berpakaian serba kuning, ditamsilkan ibarat telur ayam, hari ini merupakan inti terdalam, pusat dari seluruh kegiatan Tutura di puncak siontapina, hakekatnya Wallahu alamu. Sore harinya kita akan menyaksikan pembuatan nasi bambu secara masal, sebagai wujud kesyukuran atas hasil panen yang melimpah dan dilanjutkan dengan haroa dimalam harinya. Dipuncak siontapina, setiap malamnya kita akan menyaksikan pergelaran seni budaya yang berlansung semalam suntuk, ramai oleh hiruk pikuk orang-orang baik muda maupun tua, pria dan wanita, mereka tampil berpasang-pasangan untuk menari dan bernyanti tradisional yang disebut Kabhanti, disiang hari kita akan diajak berpetualang dirimba sekitar siontapina, memasang perangkap ayam hutan (manu koo) dan memasang bubu untuk mendapatkan udang serta mencari sayur mayur dari rebung rotan dan jamur hutan.

Semuanya serba alami dan penuh petualangan. Sayangnya, Potensi pariwisata di puncak Siontapina hinga saat ini belum dilirik oleh Pemerintah Kabupaten Buton, hal ini diperkuat dengan tidak adanya satupun fasilitas yang disiapkan oleh Pemerintah seperti papan Informasi ataupun Katalog Seni dan Budaya yang ada di Kabupaten Buton.

| 0 komentar ]


Berkunjung ke Buton, rasanya belum lengkap jika tidak menyaksikan ritual parika, yakni panen padi ladang yang merupakan warisan leluhur di Buton sejak dahulu kala. Dalam tradisi panen padi, penduduk akan bergotong royong membantu, dengan imbalan setiap mendapatkan 4 ikat padi, maka pemilik lahan akan mendapatkan 3 ikat, sedang penduduk mendapatkan 1 ikat. Penyebutan untuk 1 ikat padi disebut kakabe, dalam praktiknya ada yang dikenal dengan kakabe wasuamba dan kakabe ngkamaru. Setiap 2 kakabe yang disatukan disebut 1 kagaa. Setiap 2 kagaa disebut sekalima.

sumber

| 0 komentar ]


Batanda merupakan suatu tarian tradisional yang dimainkan oleh remaja putri. Kata batanda berasal dari Bahasa Wasuamba (rumpun Pancana) yang berarti memulai. Ketika batanda dimainkan, artinya sebuah tanda untuk dimulainya tarian ngibi yang diperankan laki-laki. Dalam tarian ini, pemain ngibi dalam hal ini laki-laki tidak diperkenankan untuk menyentuh wanita yang memainkan batanda, sebagai simbol penghormatan atas wanita yang banyak berperan dalam kehidupan. Gerakan tarian ngibi menyerupai gerakan ayam jantan yang hendak memikat betina. Tangan kiri memegang ujung kain sarung sedangkan tangan kanan diangkat keatas, sambil berputar 180 derajat kemudian berbalik lagi. Dewasa ini tarian ngibi banyak diminati oleh remaja.

sumber

| 0 komentar ]


Jika anda berkunjung di Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara (Sultra), tidak ada salahnya jika mencoba wisata alam,  Goa Wamose di Desa Benteng,  Kecamatan Lasalimu.  Konon kabarnya,  goa ini  merupakan tempat persembunyian Sultan berserta masyarakat dari kejaran musuh di jaman kesultanan dulu. Untuk bisa menikmati wisata Goa Wamose ini,  bisa di tempuh dengan perjalanan 3 jam dengan menggunakan alat transportasi darat ke Desa Benteng. Kemudian setibanya di Desa benteng,  anda diharuskan berjalan kaki sekitar 500 meter, dengan mendaki bukit  untuk mencapai pintu goa. Pintu goa yang terbuka lebar,  di dalamnya terdapat,  beberapa ornamen  mirip tempat duduk. Selain itu,  suara ribuan makhluk malam  yaitu kelelawar membuat suasanya hati semakin berdecak kagum.   Konon kabarnya tempat ini merupakan tempat persembunyian  raja,  dimana  raja membawa serta masyarakat  untuk berlindung dari kejaran musuh. Di dalam goa,  terdapat beberapa pintu dan ruang-ruang kosong yang bisa memuat hingga ribuan orang di dalamnya. Lokasi yang berkelok-kelok dan tempat yang sangat tersembunyi, wajar jika membuat  musuh tidak bisa menemukan tempat ini. T
empat ini tidak begitu banyak yang tahu,  apalagi para pendatang. Namun,  jika anda ingin berwisata alam  bisa di temani oleh warga di sekitar


Sumber Berita: http://kabarpena.com/berita-wisata-alam-goa-wamose.html#ixzz2iH7Rlmei

| 0 komentar ]


Memiliki populasi ikan dan karang yang dengan formasi atol yang spektakuler serta lingkungan laut yang indah dan menawan. Kepulauan ini dapat dicapai dengan mengunakan motor boat selama 2-3 jam.


Di Kabupaten Buton juga terdapat beberapa pantai dengan pasir putihnya, seperti Bone Mantete, Boneoge, dan Katembe, yang terletak di Lakudo, serta pantai-pantai lain seperti Pantai Jodoh dan Laompo di Batauga dan Pantai Koguuna di Pasarwajo.



| 0 komentar ]


Merupakan hutan hujan tropis yang belum tersentuh, dan menjadi rumah bagi spesies endemik seperti anoa, macaque, tarsius, kuskus dan beberapa jenis burung. Saat ini sumber daya alam yang eksotis ini pengelolaannya menjadi tanggung jawab Operation Wallacea.



Sumber: http://butonkab.go.id

| 1 komentar ]

Acara Kande Tompa ini merupakan salah satu rangkaian acara dari Pekande-kandea yang di gelar lebih dahulu yaitu pada sore hari di tempat yang sama. Kande Tompa menurut masyarakat setempat adalah proses perkenalan muda-mudi. Dimana para gadis-gadis dari desa Tolandona menyiapkan talam berisi makanan, kemudian para pria datang dan disuapi oleh para gadis Setelah disuapi, maka para pria memberikan uang sebagai jasa dari suapan yang di berikan oleh para gadis. Untuk besarannya, sesuai kerelaan masing-masing. Acara Kande Tompa sudah di lakukan oleh masyarakat turun temurun. Acara ini dilaksanakan pada hari ke tujuh pasca lebaran idhul fitri.


sumber

| 0 komentar ]


Orang Buton sejak jaman dulu sudah mengenal pertanian. Rongi merupakan sebuah desa yang umurnya sudah sangat tua. Lokasinya terletak sekitar 30 km dari pusat Kota Baubau. Desa ini terkenal sejak zaman dulu sebagai desa tempat hidup petani-petani tradisional yang memiliki kemampuan pertahanan pangan yang baik. Kebiasaan turun-temurun warga desa ini menyimpan bahan pangan bahkan bisa menjadi pelajaran penting bagi Indonesia yang bertanah paling subur di dunia, tapi tetap saja menjadi pengimpor beras
Karena kemarau yang panjang, kelaparan hebat pernah melanda seluruh wilayah kesultanan Buton. Seluruh daerah di pulau penghasil aspal ini kelaparan kecuali Rongi. Warga dari desa lain berdatangan ke desa itu untuk menukar barang yang mereka bawa dengan makanan simpanan warga Rongi. Karena kisah yang terus dikenang itu pulalah pemerintah setempat pernah mengganti namanya menjadi Desa Sandang Pangan. Tapi Rongi tetap saja jadi nama yang lebih populer sampai sekarang.
Kemampuan warga Rongi bertahan itu ternyata karena masyarakatnya mengawetkan bahan makanan pokoknya, terutama jagung, dengan cara mengasapi. Pasokan makanan yang ada di dalam gudang yang berada di langit-langit rumah mereka setiap hari terkena asap dari dapur yang terletak tepat di bawah gudang itu. Ingat pepatah sambil menyelam minum air, maka warga Rongi memasak sambil mengawetkan cadangan jagung di langit-langit rumah.
Memang dengan cara mengasapi persediaan makanan itu akan menghitami biji jagung yang ditaruh di lumbung itu. Tapi jangan ditanya soal daya tahan perbekalan. Ada biji jagung yang masih bisa dimasak dan dimakan dengan rasa tidak berubah meski telah ditaruh di gudang selama 18 tahun!


Selain menaruh jagung di lumbung yang ada di langit-langit rumah, warga desa itu juga menyimpan persediaannya yang lain seperti padi mereka di bawah kolong rumahnya. Padi yang masih dalam bentuk gabah, masih berkulit tahan terhadap kutu yang biasa menyerang beras. Ia juga tahan terhadap cuaca dan binatang pengganggu karena ditutup kain rapat-rapat.
Padi yang mereka kembangkan itu adalah padi gunung. Mereka tidak membawa pulang padi itu dalam karung seperti yang terlihat di persawahan Sulawesi Selatan. Warga Rongi membawa padi panenan masih dengan batang-batangnya dan diikat dalam ukuran tertentu. Seikat padi itu biasanya kalau sudah dipisahkan dari batang dan kulitnya akan menghasilkan sekitar 3 kilogram beras. Untuk memisahkan kulit gabah, warga pun masih mengandalkan alu dan lesung.
Padi sebenarnya belakangan baru dikenal, ditanam, dan kini menjadi makanan pokok warga Rongi. Dulu warga hanya mengenal jagung. Bahkan desa yang berada di ketinggian 300-an meter dari permukaan laut itu menjadi salah satu penghasil jagung di Pulau Buton. Tapi jagung hasil panen itu, mereka simpan untuk keperluan makan sehari-hari saja. Jadi penghasilan warga desa yang rerata pekebun itu didapat dari panenan tembakau, kacang tanah, atau kemiri yang juga banyak ditanam di ladang-ladang mereka.
Selain cadangan makanan berlimpah tadi, setiap rumah di Rongi juga memiliki banyak persediaan kayu bakar yang disimpan dan disusun di kolong rumah. Pengumpulan kayu bakar yang dilakukan oleh kaum ibu-ibu itu biasanya di musim kemarau untuk mengantisipasi persediaan kayu bakar bila musim hujan tiba.
Warga desa yang berjumlah sekitar 1.600 jiwa itu pun mengatur diri mereka dalam menjaga persediaan air untuk desa itu. Sistem Kaombo (hutan larangan) yang dipegang teguh warga desa mengharuskan warga tidak menebang pohon yang berada di radius 300 meter di sekitar daerah aliran sungai (DAS). Kesadaran penduduk untuk menjaga hutan di Rongi menunjukkan penghargaan tinggi mereka terhadap alam. Ukuran larangan penebangan radius 300 meter ini bahkan melebihi aturan yang ditetapkan pemerintah.
Jarak larangan tebang di sekitar DAS ini sendiri lebih jauh bila dibanding dengan SK Menteri Kehutanan No353/Kpts-II/1986 tentang Penetapan Radius/Jarak Larangan Penebangan Pohon dari Mata Air Tepi Jurang, Waduk/Danau, Sungai dan Anak Sungai dalam Kawasan Hutan, Hutan Cadangan dan Hutan Lainnya. Dalam pasal 2 butir 2 surat keputusan itu, pemerintah melarang siapa pun menebang pohon yang berada di daerah kiri-kanan sungai sekurang-kurangnya selebar 100 meter.
Manfaat sistem pengelolaan air itu dirasakan warga Rongi. Mereka tidak pernah kesulitan air bersih. Mata air yang berada di lereng gunung sekitar desa tak pernah kering meski musim kemarau melanda. Bahkan kini air itu bisa mengalir lancar hingga ke rumah-rumah yang ada di Rongi karena bantuan mesin pompa dari sebuah lembaga asing.
Cerita-cerita tentang ketahanan pangan di Desa Rongi ini pulalah yang membuat saya tertarik menelusuri desa ini. Di Rongi terdapat benteng yang mengelilingi permukiman pertama Rongi, yang dibangun di sekitar zaman kesultanan Buton dulu, untuk melindungi warganya dari serbuan tentara Tobelo. Benteng itu seakan menjadi lambang dan penanda bahwa Rongi sejak dulu dikenal sebagai benteng sandang pangan kesultanan Buton yang sudah melegenda. Peningalan sejarah berupa meriam naga dan dua pucuk senapan masih ada dikampung ini.
Hingga saat ini masyarakatnya masih memegang hukum adat dan tradisi leluhurnnya serta memiliki kelembagaan adat. Rongi juga merupakan salah satu daerah pasukan elit Kerajaan Buton karena Rongi adalah bagian utama Lapendewa. Rongi juga sebagai tempat berkedudukanya Bontona Baluwu bahkan rapat-rapat rahasia Kerajaan Buton sering dilakukan di Rongi. Masyarakat Rongi lintas generasi mengetahui betapa besar peran serta leluhurnya dalam sejarah perjuangan Buton. Dalam catatan Oputa Yi Koo salah satu yang membantu perjuangan gerlianya dalam mengusir Belanda adalah orang Rongi. Tak heran jika Rongi dikatakan desa yang penuh khasana budaya.



sumber: http://www.panyingkul.com/view.php?id=251
dokumentasi: Zeth Oswald.

| 0 komentar ]


Makam ini terletak kira-kira 150 meter arah Timur dinding Benteng Koro bagian barat. Terletak di Kabupaten Buton Utara, tidak seorangpun masyarakat yang mengetahui nama-nama yang dimakamkan.  Dikisahkan bahwa yang dimakamkan adalah seorang leluhur yang sakti dan 6 orang wanita hamil yang memangku beliau saat menghembuskan nafas terakhir.

Makam ini berada satu tembok pagar dengan ukuran panjang 4,50 meter dan lebar 4,20 meter. Batu-batu nisan terbuat dari batu kapur (stalastik) yang tertinggi 43 cm dan terendah 20 cm.

Makam ini dilindungi oleh sebuah cungkup yang terbuat dari kayu dan tidak berdinding. Oleh karena itu, kondisi bangunan makam tampak sangat bersih, tidak ada gangguan dari lumut maupun rerumputan

sumber: www.butonutarakab.go.id

| 0 komentar ]


Benteng Koro dan 3 buah kompleks makam kuno terletak  kira-kira 1 km arah tengggara ibukota kelurahan Bonelipu, Buton Utara.  Benteng ini didirikan oleh Lakoni Koro dengan tujuan mempertahankan diri dari serangan musuh. Benteng Koro merupakan pusat pertahanan dan pemukiman masyarakat koro.  Benteng ini dibangun dengan teknologi yang sangat sederhana yakni susunan batu-batuan gunung  tanpa menggunakan bahan perekat.  Tinggi tembok benteng tergantung pada kondisi tanah yakni antara 1 – 130 meter.  Tebal tembok  bagian atas antara 25 – 40 cm tergantung dari besar  kecilnya batu.  Benteng ini menyerupai huruf L membujur Utara- Selatan dengan panjang 300 meter.  Karena dinding benteng berukuran sangat kecil, maka tingkat kerusakannya juga terus berlangsung.   Kerusakan nyata pada dinding benteng yakni runtuh dan batunya berhamburan akibat desakan akar-akar pohon maupun gangguan dari binatang liar

sumber: www.butonutarakab.go.id

| 0 komentar ]


Makam ini terletak kira-kira 50 meter arah Benteng Koro, Buton Utara. Dikisahkan bahwa Wangkolo adalah salah seorang leluhur masyarkat Koro yang sangat sakti.  Tidak diketahui dengan pasti kedudukan kedudukan beliau pada masa itu. Yang jelas, makam ini masih sering diziarahi oleh sebagian masyarakat.  Makam ini hanya merupakan sebuah batu lepas berukuran besar (agak bundar) tanpa ada benda/artefak lain disekitarnya.  Peninggalan semacam  ini mengingatkan kita pada peninggalan masa Megalitik  pada masa Neolitikum.

sumber: www.butonutarakab.go.id

| 0 komentar ]


Makam ini berada  dalam lingkungan Benteng Koro, Buton Utara yaitu sisi Timur dinding bagian Barat. Masyarakat tidak  mengetahui nama asli, ataupun kedudukan beliau dalam masyarakat pada masa itu.  Posisi makam ini membujur arah Utara-Selatan seperti makam-makam Islam lainnya.  Batu Nisan terbuat dari batu gunung yang posisinya tidak asli lagi akibat pengrusakan oleh manusia.  Makam ini dikelilingi tembok batu yang masih utuh.  Masyarakat beranggapan bahwa situs ini adalah merupakan temapt menimbun benda-benda berharga masyarakat zaman dahulu.
sumbe: www.butonutarakab.go.id

| 0 komentar ]


Benteng Pangilia terletak + 3 km ke arah Tenggara Benteng Lipu, Buton Utara. Benteng ini didirikan oleh Sangia Rau dengan tujuan untuk mempertahankan diri dari serangan Suku Tobelo. Benteng Pengilia terletak di atas sebuah bukit yang menghadap ke laut lepas. Pemandangan ke arah Timur sangat indah sebab kapal-kapal yang melintas tampak sangat jelas. Di dalam kompleks benteng tidak ada peninggalan lain, kecuali sebuah jurang yang berada pada sisi Selatan yang diduga untuk persembunyian. Pohon-pohon besar maupun kecil tumbuh sangat indah baik di dalam maupun di luar benteng.

Benteng Pangilia dengan panjang dinding 823 meter merupakan benteng pertahanan terdepan dan tidak dihuni oleh penduduk pada masa itu. Dinding benteng dibangun dengan teknologi sederhana yakni batu-batu gunung disusun beraturan tanpa menggunalkan bahan perekat. Benteng ini dilengkapi dengan beberapa buah bastion dan beberapa buah trap (tangga) bersusun 2 sampai 4 buah. Tinggi tembok bervariasi antara 2 – 5 meter, sedangakan tebal bagian atas antara 2 – 3 meter.

Dinding bangunan Benteng Pengilia masih banyak yang utuh (+ 60 %). Umumnya kerusakan disebabkan oleh desakan akar-akar pohon yang tumbuh di sisi dalam maupun di sisi luar. Selain itu, banyak pula pohon-pohon kecil yang tumbuh di permukaan dinding benteng.


sumber: www.butonutarakab.go.id

| 1 komentar ]

Benteng Lipu merupakan benteng utama pertahanan masyarakat Kulisusu yang dibangun dalam pusat pemerintahan Lakino Kulisusu sekitar abad ke XVII. Benteng ini didirikan atas prakarsa Buraku (Gaumalanga) yakni seorang penyiar agama Islam dengan tujuan untuk melindungi diri dari seragam musuh utamanya suku Tobelo dan bangsa Belanda.

Benteng Lipu terletak + 1 km dari ibukota Kecamatan Kulisusu, Buton Utara, dan berada di atas perbukitan dengan ketinggian + 60 meter dari permukaan laut. Luas keseluruhan Benteng Lipu adalah + 12,95 hektar yang dimanfaatkan untuk perumahan penduduk (bagian Selatan), sedangkan pada bagian Utara adalah kompleks makam-makam kuno dan bangunan bersejarah lainnya.

Benteng Lipu dan beberapa bangunan peninggalan di dalamnya telah dipugar oleh pemerintah provinsi selama 6 tahap dan berakhir pada tahun 2007. Adapun data-data benteng adalah sebagai berikut:

  • Panjang dinding Benteng Lipu adalah 1.883 meter.
  • Tinggi dan tebal tembok bervariasi tergantung pada kondisi tanah atau lereng bukit.
  • Terdapat 7 buah Bastion yang dibuat pada beberapa titik yang strategis.
  • Pintu masuk benteng (bentuk asli) saling menutupi.
  • Pada permukaan tanah di dalam kompleks benteng banyak ditemukan sebaran pecahan keramik asing dan gerabah

sumber: www.butonutarakab.go.id

| 0 komentar ]

 

Benda ini adalah yang melatarbelakangi penamaan Kulisusu, kini tinggal sebelah dan tertimbun hampir seluruh bagiannya. Konon ceritanya bahwa pasangan dari kulit Lokan ini diambil oleh suku Tobelo setelah masyarakat Kulisusu menderita kekalahan. Adapun ukurannya sebagai berikut: panjang 60 cm dan tinggi dari permukaan tanah 25 cm. Wisata sejarah ini terletak di Kompleks Benteng Lipu, Keraton Kulisusu, Kabupaten Buton Utara.


sumber: www.butonutarakab.go.id

| 0 komentar ]


Bangunan ini sebenarnya hanya mempunyai satu tiang penyangga, namun karena pertimbangan ketahanan bangunan maka saat dilakukan pemugaran bangunan dengan ditambahkan beberapa tiang pembantu. Bangunan ini berfungsi sebagai tempat Mancuana (pemimpin kampung) untuk meminta berkah akan keselamatan rakyatnya. Ukuran bangunan ini adalah 6,10 meter x 6,10 meter, terletak di kawasan Keraton Kulisusu.

sumber: butonutarakab.go.id

| 0 komentar ]


Keadaan fisik bangunan ini tidak asli lagi, kecuali dasar bangunan yang masih dapat diidentifikasi. Masjid ini merupakan masjid pertama yang dibangun setelah masyarakat memeluk agama Islam. Ukuran dasar bangunan yakni: panjang 18 meter, lebar 17,25 meter, tinggi 1,50 meter, dan terendah 1,30 meter.

sumber: www.butonutarakab.go.id

| 0 komentar ]


Menurut cerita turun temurun bahwa pada mulanya bangunan ini merupakan tempat pembuatan perahu pada masa pra Islam. Setelah perahu selesai, bangunan pelindungnya dijadikan tempat musyawarah masyarakatnya. Bangunan ini sudah beberapa kali mengalami perbaikan  oleh masyarakat. Pada tahun 1995 bangunan ini dipugar oleh pemerintah provinsi sesuai ukuran aslinya yakni : panjang 15,65 meter dan lebar 7,75 meter.

sumber: butonutarakab.go.id