SELAMAT DATANG DI GREAT BUTON WEBLOG

Weblog ini akan memperkenalkan kepada anda tentang keeksotikan daerah-daerah di Buton dari sisi kebudayaan, tradisi, kesenian, dan alam. Buton yang dimaksud ialah Buton secara umum yang meliputi Kota Baubau, Kabupaten Wakatobi, Kabupaten Buton, dan Kabupaten Buton Utara di Provinsi Sulawesi Tenggara, Indonesia.
Tampilkan postingan dengan label WISATA BUDAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label WISATA BUDAYA. Tampilkan semua postingan
| 1 komentar ]

Di Kabupaten Buton, yang merupakan wilayah Kesultanan Buton dahulu, terdapat banyak situs sejarah dan hingga kini masih terjaga dengan baik, sebut saja Puncak Siontapina, yang merupakan Benteng Pertahanan sekaligus Markas Rahasia sang Pejuang Patriotis, penentang kedzaliman imrealisme Belanda saat itu, yang bernama Laode Himmayatuddin Muhammad Saidi Ibnu Sulthaani Liyaluddin Ismail  (Oputa Yikoo) atau La Karambau, merupakan satu-satunya Tokoh yang naik Tahta dan memerintah sebanyak dua periode, yakni Sultan Buton ke 21 dan 23. 

Selain gigih dalam melakukan perlawanan terhadap Belanda, Himayatuddin juga menekankan pentingnya kelestarian hutan yang menunjang aktivitas kehidupan masyarakat pengikutnya saat itu, sehingga disekitaran Puncak Siontapina ditetapkan sebagai Kawasan Hutan Adat yang disebut Kaombo dengan tujuan agar hutan yang berada disekitar Puncak Siontapina tetap terpeliharan dan terjaga keasliannya. Sanksi adat menanti untuk mereka yang m elanggar, yakni berupa denda atau menanam kembali pohon yang ditebang dengan beberapa pohon yang lain, bahkan ada sanksi berat untuk mereka yang tertangkap tangan melakukan pengrusakan hutan yaitu diasingkan kedaerah lain. Wasiat inilah yang masih terus dijalankan oleh para pengikutnya yang tersebar di Wasuamba, Labuandiri, Kamaru dan Lawele.

Masyarakat adat Wasuamba sebagai kaanana ompo Sultan Himayatuddin masih memeliharan dan menjalankan wasiat ini, maka setiap tahunnya setelah Idul Fitri usai, Syara Matanaeyo – Sukanaeyo, Labuandiri Wasuamba akanberkumpul untuk bermusyawarah membicarakan prosesi adat tahunan yang disebut dengan Tutura yang akan diselenggarakan dipuncak bukit Siontapina. Tutura ini akan berlangsung selama beberapa hari itulah sebabnya masyarakat adat (Tontau, Pau, dan Syara) beserta rombongan yang akan menuju puncak siontapina akan mempersiapkan perbekalan selama disana. Proses ini mereka janlankan penuh dengan semangat gotong royong sehingga perjalan menuju puncak siontapina yang berjarak kurang lebih 50 Km memasuki hutan belantara menjadi ringan dan ramai.

Untuk menuju puncak Siontapina kita berjalan melalui jalur Labuandiri (kurang lebih 40 Km) atau melalui jalur favorit yakni desa Wasuamba yaang memiliki jarak tempuh lebih pendek, diperjalanan  kita akan disuguhkan pemandangan alam yang asri dan menakjubkan, aliran sungai yang bersih dan hamparan ladang tradisional yang menghijau, mendaki beberapa bukit, menyeberangi sungai. Disepanjang jalan kita akan melihat aneka flora dan fauna, dibeberapa tempat aneka satwa ini mulai terusik kehidupannya disebabkan kehadiran beberapa perusahaan pertambangan yang mulai memporak-porandakan hutan disekitar Puncak Siotantapina. Diperjalan, kita juga dapat menangkap udang untuk makan siang sambil beristrahat diantara pohon yang rindang, perjalanan ini dapat kita tempuh dalam waktu satu hari.

Memasuki Puncak siontapina kita harus memakai sarung dan songkok, tidak diperknankan memakai celana panjang dan alas kaki. Suasananya terasa seperti zaman dahulu. Di Puncak Siontapina, kita akan terpesona dengan pemandangan alam yang menakjubkan, selain itu adanya benteng alam berbentuk segita 3 semakin membuat kita takjub akan sistem pertahanan Himayatuddin saat itu, Benteng di sisi Timur bernama Wantalao dengan kedalama tebing  sekitar 1 km (tegak lurus 180o), di tempat ini kita melihat langsung laut banda yang merupakan jalur pelayaran nasional dan internasional, Kepulauan Wakatobi, Pasarwajo, Teluk Kamaru. 

Sedangkan sisi Utara terdapat benteng Alam yang bernama Lakodo, ditempat ini kita akan melihat teluk Lawele, Hamparan hutan Lambelu, sungai Kalata yang bermuara di Wakantolalo Perbatasan Kec. Wolowa dengan Kec. Siontapina. Disisi Barat terdapat benteng alam yang disebut Wamoinondo, ditempat inilah kita akan melihat langsung ke arah Sora wolio dan sekitarnya. Selainitu, di puncak siontapina kita akan menyaksikan beberapa situs, seperti Lawana Wasuamba, Uwe Pangalasa, Quba Oputa Yikoo, Batu Banawa, Permandian Waode Kulisusu serta beberapa meriam dan situs lainnya. 

elain pemandangan alamnya yang menakjubkan, kita juga akan disuguhi beberapa atraksi dan prosesi adat yang disebut Tutura, dimulai dengan Prosesi Samburea yang berarti membersihkan, secara kasat mata kita akan menyaksikan prosesi pembersihan beberapa situs seperti pekangkiloana Batubanawa, Pembersihan Permandaian Waode Kulisisusu, pembersihan  Quba Oputa Yikoo, pembersihan dan ziarah ke beberapa makam yang terdapat di puncak Siontapina. Pada hari Samburea, semua orang diwajibkan memakain pakaian berwarna hijau, ibarat telur ayam, Samburea adalah cangkak luarnya. Hakekatnya Wallahu allamu.

Di hari kedua, Prosesi adat disebut dengan Sangka (Penyempurna) yang diawali dengan ritual mendirikan tiang sangka oleh 16 orang anggota syara Matanaeo Sukanaeo, dalam prosesi ini kita juga akan menyaksikan persembahan tarian Moose di atas batu banawa yang dimainkan oleh remaja perempuan yang belum gadis (belum haid), dilanjutkan denganTarian Linda, Mangaru, Pomunsei dan Manca serta prosesi pemberian makan kepada anak yatim piatu. Pada hari ini semua orang akan berpakain serba putih, seumpama telur ini adalah lapisan kedua, putih telur itu sendiri, hakekatnya Wallahu alamu. 

Hari ketiga dari Prosesi adat merupakan puncak dari segala kegiatan Tutura di puncak siontapina, inilah yang disebut matano atau prosesi  Pemutaran Payung. Payung keselamatan Negeri Butuuni,  dihari ini masyarakat adat akan berkumpul disatu tempat yang disebut lembono wite, duduk bersama mendengarkan nasehat dari Kapitalau Lawele dan dilanjutkan dengan berjabat tangan dengan beberapa Leluhur Buton yang hadir dengan jalan “Pobangka” pada Jasad yang telah dipersiapkan oleh Syara Matanaeo Sukanaeo. Di hari ini kita akan menyaksikan beberapa kejadian diluar akal sehat kita namun itulah yang menjadikan Siontapina menjadi berbeda dengan sangia lain di Buton.

Orang-orang yang berpakaian serba kuning, ditamsilkan ibarat telur ayam, hari ini merupakan inti terdalam, pusat dari seluruh kegiatan Tutura di puncak siontapina, hakekatnya Wallahu alamu. Sore harinya kita akan menyaksikan pembuatan nasi bambu secara masal, sebagai wujud kesyukuran atas hasil panen yang melimpah dan dilanjutkan dengan haroa dimalam harinya. Dipuncak siontapina, setiap malamnya kita akan menyaksikan pergelaran seni budaya yang berlansung semalam suntuk, ramai oleh hiruk pikuk orang-orang baik muda maupun tua, pria dan wanita, mereka tampil berpasang-pasangan untuk menari dan bernyanti tradisional yang disebut Kabhanti, disiang hari kita akan diajak berpetualang dirimba sekitar siontapina, memasang perangkap ayam hutan (manu koo) dan memasang bubu untuk mendapatkan udang serta mencari sayur mayur dari rebung rotan dan jamur hutan.

Semuanya serba alami dan penuh petualangan. Sayangnya, Potensi pariwisata di puncak Siontapina hinga saat ini belum dilirik oleh Pemerintah Kabupaten Buton, hal ini diperkuat dengan tidak adanya satupun fasilitas yang disiapkan oleh Pemerintah seperti papan Informasi ataupun Katalog Seni dan Budaya yang ada di Kabupaten Buton.

| 0 komentar ]


Berkunjung ke Buton, rasanya belum lengkap jika tidak menyaksikan ritual parika, yakni panen padi ladang yang merupakan warisan leluhur di Buton sejak dahulu kala. Dalam tradisi panen padi, penduduk akan bergotong royong membantu, dengan imbalan setiap mendapatkan 4 ikat padi, maka pemilik lahan akan mendapatkan 3 ikat, sedang penduduk mendapatkan 1 ikat. Penyebutan untuk 1 ikat padi disebut kakabe, dalam praktiknya ada yang dikenal dengan kakabe wasuamba dan kakabe ngkamaru. Setiap 2 kakabe yang disatukan disebut 1 kagaa. Setiap 2 kagaa disebut sekalima.

sumber

| 0 komentar ]


Batanda merupakan suatu tarian tradisional yang dimainkan oleh remaja putri. Kata batanda berasal dari Bahasa Wasuamba (rumpun Pancana) yang berarti memulai. Ketika batanda dimainkan, artinya sebuah tanda untuk dimulainya tarian ngibi yang diperankan laki-laki. Dalam tarian ini, pemain ngibi dalam hal ini laki-laki tidak diperkenankan untuk menyentuh wanita yang memainkan batanda, sebagai simbol penghormatan atas wanita yang banyak berperan dalam kehidupan. Gerakan tarian ngibi menyerupai gerakan ayam jantan yang hendak memikat betina. Tangan kiri memegang ujung kain sarung sedangkan tangan kanan diangkat keatas, sambil berputar 180 derajat kemudian berbalik lagi. Dewasa ini tarian ngibi banyak diminati oleh remaja.

sumber

| 1 komentar ]

Acara Kande Tompa ini merupakan salah satu rangkaian acara dari Pekande-kandea yang di gelar lebih dahulu yaitu pada sore hari di tempat yang sama. Kande Tompa menurut masyarakat setempat adalah proses perkenalan muda-mudi. Dimana para gadis-gadis dari desa Tolandona menyiapkan talam berisi makanan, kemudian para pria datang dan disuapi oleh para gadis Setelah disuapi, maka para pria memberikan uang sebagai jasa dari suapan yang di berikan oleh para gadis. Untuk besarannya, sesuai kerelaan masing-masing. Acara Kande Tompa sudah di lakukan oleh masyarakat turun temurun. Acara ini dilaksanakan pada hari ke tujuh pasca lebaran idhul fitri.


sumber

| 0 komentar ]


Orang Buton sejak jaman dulu sudah mengenal pertanian. Rongi merupakan sebuah desa yang umurnya sudah sangat tua. Lokasinya terletak sekitar 30 km dari pusat Kota Baubau. Desa ini terkenal sejak zaman dulu sebagai desa tempat hidup petani-petani tradisional yang memiliki kemampuan pertahanan pangan yang baik. Kebiasaan turun-temurun warga desa ini menyimpan bahan pangan bahkan bisa menjadi pelajaran penting bagi Indonesia yang bertanah paling subur di dunia, tapi tetap saja menjadi pengimpor beras
Karena kemarau yang panjang, kelaparan hebat pernah melanda seluruh wilayah kesultanan Buton. Seluruh daerah di pulau penghasil aspal ini kelaparan kecuali Rongi. Warga dari desa lain berdatangan ke desa itu untuk menukar barang yang mereka bawa dengan makanan simpanan warga Rongi. Karena kisah yang terus dikenang itu pulalah pemerintah setempat pernah mengganti namanya menjadi Desa Sandang Pangan. Tapi Rongi tetap saja jadi nama yang lebih populer sampai sekarang.
Kemampuan warga Rongi bertahan itu ternyata karena masyarakatnya mengawetkan bahan makanan pokoknya, terutama jagung, dengan cara mengasapi. Pasokan makanan yang ada di dalam gudang yang berada di langit-langit rumah mereka setiap hari terkena asap dari dapur yang terletak tepat di bawah gudang itu. Ingat pepatah sambil menyelam minum air, maka warga Rongi memasak sambil mengawetkan cadangan jagung di langit-langit rumah.
Memang dengan cara mengasapi persediaan makanan itu akan menghitami biji jagung yang ditaruh di lumbung itu. Tapi jangan ditanya soal daya tahan perbekalan. Ada biji jagung yang masih bisa dimasak dan dimakan dengan rasa tidak berubah meski telah ditaruh di gudang selama 18 tahun!


Selain menaruh jagung di lumbung yang ada di langit-langit rumah, warga desa itu juga menyimpan persediaannya yang lain seperti padi mereka di bawah kolong rumahnya. Padi yang masih dalam bentuk gabah, masih berkulit tahan terhadap kutu yang biasa menyerang beras. Ia juga tahan terhadap cuaca dan binatang pengganggu karena ditutup kain rapat-rapat.
Padi yang mereka kembangkan itu adalah padi gunung. Mereka tidak membawa pulang padi itu dalam karung seperti yang terlihat di persawahan Sulawesi Selatan. Warga Rongi membawa padi panenan masih dengan batang-batangnya dan diikat dalam ukuran tertentu. Seikat padi itu biasanya kalau sudah dipisahkan dari batang dan kulitnya akan menghasilkan sekitar 3 kilogram beras. Untuk memisahkan kulit gabah, warga pun masih mengandalkan alu dan lesung.
Padi sebenarnya belakangan baru dikenal, ditanam, dan kini menjadi makanan pokok warga Rongi. Dulu warga hanya mengenal jagung. Bahkan desa yang berada di ketinggian 300-an meter dari permukaan laut itu menjadi salah satu penghasil jagung di Pulau Buton. Tapi jagung hasil panen itu, mereka simpan untuk keperluan makan sehari-hari saja. Jadi penghasilan warga desa yang rerata pekebun itu didapat dari panenan tembakau, kacang tanah, atau kemiri yang juga banyak ditanam di ladang-ladang mereka.
Selain cadangan makanan berlimpah tadi, setiap rumah di Rongi juga memiliki banyak persediaan kayu bakar yang disimpan dan disusun di kolong rumah. Pengumpulan kayu bakar yang dilakukan oleh kaum ibu-ibu itu biasanya di musim kemarau untuk mengantisipasi persediaan kayu bakar bila musim hujan tiba.
Warga desa yang berjumlah sekitar 1.600 jiwa itu pun mengatur diri mereka dalam menjaga persediaan air untuk desa itu. Sistem Kaombo (hutan larangan) yang dipegang teguh warga desa mengharuskan warga tidak menebang pohon yang berada di radius 300 meter di sekitar daerah aliran sungai (DAS). Kesadaran penduduk untuk menjaga hutan di Rongi menunjukkan penghargaan tinggi mereka terhadap alam. Ukuran larangan penebangan radius 300 meter ini bahkan melebihi aturan yang ditetapkan pemerintah.
Jarak larangan tebang di sekitar DAS ini sendiri lebih jauh bila dibanding dengan SK Menteri Kehutanan No353/Kpts-II/1986 tentang Penetapan Radius/Jarak Larangan Penebangan Pohon dari Mata Air Tepi Jurang, Waduk/Danau, Sungai dan Anak Sungai dalam Kawasan Hutan, Hutan Cadangan dan Hutan Lainnya. Dalam pasal 2 butir 2 surat keputusan itu, pemerintah melarang siapa pun menebang pohon yang berada di daerah kiri-kanan sungai sekurang-kurangnya selebar 100 meter.
Manfaat sistem pengelolaan air itu dirasakan warga Rongi. Mereka tidak pernah kesulitan air bersih. Mata air yang berada di lereng gunung sekitar desa tak pernah kering meski musim kemarau melanda. Bahkan kini air itu bisa mengalir lancar hingga ke rumah-rumah yang ada di Rongi karena bantuan mesin pompa dari sebuah lembaga asing.
Cerita-cerita tentang ketahanan pangan di Desa Rongi ini pulalah yang membuat saya tertarik menelusuri desa ini. Di Rongi terdapat benteng yang mengelilingi permukiman pertama Rongi, yang dibangun di sekitar zaman kesultanan Buton dulu, untuk melindungi warganya dari serbuan tentara Tobelo. Benteng itu seakan menjadi lambang dan penanda bahwa Rongi sejak dulu dikenal sebagai benteng sandang pangan kesultanan Buton yang sudah melegenda. Peningalan sejarah berupa meriam naga dan dua pucuk senapan masih ada dikampung ini.
Hingga saat ini masyarakatnya masih memegang hukum adat dan tradisi leluhurnnya serta memiliki kelembagaan adat. Rongi juga merupakan salah satu daerah pasukan elit Kerajaan Buton karena Rongi adalah bagian utama Lapendewa. Rongi juga sebagai tempat berkedudukanya Bontona Baluwu bahkan rapat-rapat rahasia Kerajaan Buton sering dilakukan di Rongi. Masyarakat Rongi lintas generasi mengetahui betapa besar peran serta leluhurnya dalam sejarah perjuangan Buton. Dalam catatan Oputa Yi Koo salah satu yang membantu perjuangan gerlianya dalam mengusir Belanda adalah orang Rongi. Tak heran jika Rongi dikatakan desa yang penuh khasana budaya.



sumber: http://www.panyingkul.com/view.php?id=251
dokumentasi: Zeth Oswald.

| 2 komentar ]


Mengapa harus repot-repot ke Bali?

“Bali Kecil” ini terletak sekitar 15 kilometer dari Baubau. Topografi yang menonjol adalah luasnya areal persawahan disertai dengan beberapa daerah yang bergunung-gunung.  Seperti halnya di Bali, anda bisa pula menyaksikan beberapa rumah peribadatan khas Bali alias Pura dimana tempat itu biasa dilakukan ritual pada hari-hari besar keagamaan seperti Galungan dan Kuningan.   Anda bisa pula menikmati  aneka tarian khas Bali seperti Panyembrana, Nelayan, Manukrawa, dan masih banyak lagi. Sekitar bulan Februari atau Juni, anda bisa menyaksikan sekaligus belajar cara menanam padi dan sekitar 3 bulan kemudian anda bisa melihat dan belajar cara memanennya.  Desa ini merupakan salah satu penyuplai beras terbesar di Baubau dan menjadi salah satu tempat favorit bagi para pengunjung, terutama para peserta Sail Indonesia.



Sumber: www.osiymobaubau.com

| 0 komentar ]


Terletak sekitar 7 kilometer dari pusat kota Baubau, tidak jauh dari pantai Nirwana.  Disini anda bisa menyaksikan langsung proses pembuatan sarung tenun khas Buton.  Tenunan khas Buton ini sangat unik dari sisi pembuatan serta rancangannya dan menghasilkan beragam motif dan warna.  Namun, motifnya sangat khas sehingga kita masih bisa mengidentifikasinya sebagai tenunan khas Buton (bila kita membandingkan dengan motif tenunan daerah lain).  Ciri lain yang menonjol dari perkampungan ini adalah budidaya rumput lautnya.  Bila anda melihat banyak sekali benda-benda terapung (biasanya dari botol-botol plastik air mineral) yang diikatkan pada tali dan tetap mengapung di atas permukaan air, itu berarti dibawahnya ada rumput laut yang sedang dikembangbiakkan.  Ini merupakan salah satu komoditi penting kota Baubau, dan Pemerintah Kota Baubau selalu mendukung adanya iklim investasi, baik swasta maupun asing, untuk komoditi yang satu ini.

Sumber: www.osiymobaubau.com

| 0 komentar ]


Daerah ini dikenal dengan salah satu kawasan penutur bahasa Cia-Cia.  Bahasa ini merupakan rumpun bahasa  Austronesia yang banyak digunakan di daerah Kecamatan Sorawolio, seperti Karya Baru, Bugi dan Gonda Baru.  Pada tahun 2009, bahasa Cia-Cia mendapat sorotan media internasional karena anak-anak di kota ini telah mulai diajarkan bahasa Cia-Cia dengan menggunakan aksara Korea Hangul, dan Pemerintah Kota Baubau tengah mengadakan penjajakan terhadap adanya kemungkinan menjadikan aksara Hangul ini sebagai aksara resmi bahasa Cia-Cia.  Sebenarnya, bahasa Cia-Cia digunakan disekitar kawasan Sulawesi Tenggara, khususnya di daerah Buton selatan, Pulau Binongko, dan Pulau Batu Atas.  Dialek Wolio, yang merupakan penutur mayoritas masyarakat Kota Baubau, tidak lagi digunakan sebagai bahasa tulis untuk bahasa Cia-Cia oleh karena menggunakan aksara Arab, sedangkan aksara resmi yang digunakan oleh orang Indonesia secara umum adalah aksara Latin.  Dialek-dialek utama komunitas bahasa Cia-Cia adalah Kaisabu, Sampolawa, Laporo (Mambulu), Wabula  (beserta sub-dialeknya), dan Masiri.  Diantara dialek utama ini, dialek Masiri memiliki jumlah kosa kata yang terbanyak.

Sumber: www.osiymobaubau.com

| 0 komentar ]

 

Terletak di dalam benteng Keraton, sekitar 3 kilometer dari pusat Kota Baubau.  Di tempat ini anda bisa melihat kediaman resmi sultan yang disebut Malige,  yang dibangun tanpa sama sekali menggunakan paku.  Anda bisa pula mencicipi aneka makanan khas Baubau seperti Kaholeo rore, Kasoami, Kaumbai, onde-onde, baruasa, waje, kalo-kalo, kapusu nosu, nasu Wolio, parende dan tuli-tuli.  Hal lain yang patut anda lihat di lokasi ini adalah aneka kerajinan tangan khas Baubau, seperti sarung Buton, Panamba dan kerajinan kuningan.

Sumber: www.osiymobaubau.com

| 0 komentar ]


Asal mulanya Bendera Kerajaan Buton (Longa-longa), dan Longa-longa sebutan akrab penduduk setempat Keraton. Longa-longa sudah di kibarakan sejak Raja Pertama Buton yaitu Raja Wakaaka (Seorang wanita dari Tiongkok yang diangkat menjadi raja).
Panjang Longa-longa kurang lebih 5 M dan lebarnya 1 M. Konon ceritanya, Longa-longa di kibarkan pada saat jatuhnya tahta atau upacara adat yang akan di laksanakan .
Longa-longa di buat sebelum Islam (Agama yang kita anut sekarang ini) masuk di dalam kerajaan Buton (yangkemudian ditandai dengan terbentuknya Kesultanan Buton).
Sampai saat ini, belum ada yang tahu siapa yang membuat Bendera Longa-longa tersebut (Bendera Kerajaan Buton).

Sumber: http://sammunawir.blogspot.com

| 0 komentar ]


Sepintas, namanya mirip nama-nama merk top dari negeri pizza, Italia. Tapi jangan salah, arguci adalah seni menjahit dari bahan polos yang diisi dan dijahit menggunakan mote-mote dengan meniru bentuk seperti tumbuhan, hewan, biji-bijian maupun benda-benda lainnya sehingga menghasilkan sulaman payet berwarna cerah.
Hasil kerajinan ini biasa digunakan masyarakat local pada latar pelaminan pernikahan, baju pengantin adat, atau juga perlengkapan tata hias kamar pengantin.
Arguci merupakan kerajinan yang menjadi cirri khas daerah Sulawesi, khusunya Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara. Hasil kerajinan ini tidak dapat dipisahkan dari adat perkawinan etnis Buton yang ada di Kota Bau-Bau dan Kabupaten Buton.
sumber: http://dekranasdasultra.com/

| 0 komentar ]


Di Indonesia, kini tidak banyak lagi ditemukan perajin kuningan. Salah satu daerah yang masih bertahan dengan kerajinan kuningnnya adalah Kota Bau-Bau, Sulawesi Tenggara.
Dikenal sebagai Kota Sejarah, pemerintahan kesultanan Buton masa lampau ini menjadi daya tarik wisata di Sultra. Kerajinan kuningan telah ada dan berkembang pada masa kejayaan kesultanan tersebut.
Sentra usaha kerajinan kuningan Kota Bau-Bau terletak di Kecamatan Murhum, Kelurahan Melai. Pengerjaannya masih menggunakan cara tradisional warisan leluhur mereka, dengan mengandalkan kemampuan tangan. Sejak dari proses pemanasan hingga menjadi produk yang siap pakai.
Hasil produksi berupa alat-alat tradisional khas Daerah Buton dan sekitarnya, seperti tala beserta perlengkapan, asbak, perkakas rumah tangga, juga aneka perhiasan seperti anting, dan gelang.
Harga pasaran produk kuningan ini bervariasi, mulai dari harga Rp. 25. 0000, hingga ratusan ribu rupiah. Bergantung besar kecilnya suatu produk.
sumber: http://dekranasdasultra.com/

| 0 komentar ]


Dole-Dole merupakan salah satu bentuk tradisi budaya yang dilaksanakan atas lahirnya seorang anak. Selain itu juga sebagai bentuk pengobatan tradisional. Menurut kepercayaan, anak yang telah di Dole-Dole akan terhindar dari berbagai macam penyakit. Prosesinya sang anak diletakan diatas nyiru yang dialas dengan daun pisang yang diberi minyak kelapa. Selanjutnya anak tersebut digulingkan diatasnya sehingga seluruh badan anak tersebut berminyak. Acara ini biasanya dilaksanakan pada bulan Rajab, Sya’ban dan setelah lebaran sebagai waktu yang dianggap baik.

sumber: http://azulfachri.wordpress.com

| 0 komentar ]


Tarian ini menggambarkan kobaran semangat ksatria yang lincah dan gesitnya menggunakan parang, keris, tombak dan senjata lainnya di medan perang. Dengan Konsentrasi yang penuh serta ketajaman hati dan pikiran akan mampu mematahkan keampuhan senjata lawan. Tarian ini apabila ditampilkan selalu diawali dengan WORE sebagai pembakar semangat akan kecintaan dan kesetiaan terhadap tanah leluhur. Tari ini biasanya dipertontonkan pada saat musim tanam-tanaman yang syukuran hasil panen. Namun, saat ini lebih sering ditampilkan sebagai tari penyambutan tamu.

| 0 komentar ]


Kabengka merupakan upacara adat khitanan atau sunatan. Sebelum anak-anak menginjak usia remaja di Kulisusu, Buton Utara harus melalui satu acara ritual yaitu Kabengka dengan tujuan anak tersebut dalam mengarungi kehidupan kelak menjadi anak yang taat kepada kedua orang tua, agama, murah rejeki dan panjang umur.

sumber: http://butonutara.multiply.com

| 0 komentar ]

Kelurahan Ngkaringkari, Kecamatan Bungi, Kota Baubau menyimpan pesona budaya dari etnis pendatang. Masyarakat Bali yang datang ke Kota Baubau melalui program transmigrasi, turut membangun daerah ini serta tetap menjaga kebudayaan mereka. Masyarakat etnis Buton dan Bali hidup rukun di sini. Ngkaringkari sering disebut sebagai "The Little Bali". Ini bisa dikatakan nilai plus bagi para wisatawan yang datang ke Buton Raya sebab, bila Anda ke Bali, anda cuma melihat budaya Bali. Tapi, jika berkunjung ke Baubau dan menyempatkan diri ke Ngkaringkari, Anda bukan hanya bisa melihat budaya Buton Raya tapi juga budaya Bali. Di Ngkaringkari, Anda bisa melihat pemandangan indahnya sawah dan lahan pertanian lainnya yang terlihat sejauh mata memandang. Suasana pedesaan beserta keramahan warganya merupakan hal menarik yang tak boleh Anda lewatkan. Waktu yang tepat untuk mengunjungi daerah ini ialah saat perayaan hari besar agama Hindu.
Mengarak Butha Kale dari ujung kampung ke ujung lainnya adalah salah satu ritual yang dilakukan oleh umat Hindu di Kelurahan Ngkaringkari, Kecamatan Bungi, Kota Baubau menjelang ritual nyepi. Semua umat Hindu di seluruh Indonesia melakukan hal serupa.
Ritual Ogoh-ogoh merupakan acara tahunan. Acara ini menjadi perhatian warga setempat bahkan sangat ramai karena warga dan wisatawan Kota Baubau berdatangan ke Ngkaringkari untuk menyakasikannya.
Butha Kale pada ritual ogoh-ogoh itu tidak hanya sekedar diarak oleh sepuluh pria berpakaian serba putih dan berikat kepala. Tetapi mereka juga melakukan gerakan menari diiringi gendang dan alat musik tradisional. Gerakan itu dilakukan sepanjang jalan dari ujung timur ujung barat lalu kembali lagi ke timur.
Setiap tempat yang dilalui Butha Kale diyakini bisa menghilangkan sial yang oleh masyarakat Kelurahan Ngkaringkari disebut aura negatif alam. Butha Kale adalah perwujudan iblis yang sangat besar (raksasa) berwarna merah, bertaring, memegang kapak, kuku kaki dan tangan tajam, berambut panjang dan ditemani dua ekor monyet.
Sehari sebelum ritual ogoh-ogoh digelar, umat Hindu Ngkaringkari melakukan melasti di Pantai Lamboro. Melasti adalah ritual membuang segala kekotoran alam semesta yang tertanam dalam jiwa manusia. Usai melasti, digelar pirse lalu sawer pesange yang bertujuan untuk memberi persembahan kepada Butha Kale.
Butha Kale bisa diartikan sebagai mahluk yang berada di bawah manusia. Sedangkan persembahan untuk Butha Kale bertujuan untuk menciptakan keseimbangan alam semesta sekaligus bisa dijauhi dari semua ganguan dalam bentuk apapun pada saat ritual nyepi.
Butha Kale pada ogoh-ogoh di Ngkaringkari terbuat dari gabus menyerupai raksasa setinggi kurang lebih 3 meter. Butha Kale diletakkan di atas beberapa bambu-bambu yang diikat menyatu menyerupai salah satu permainan dalam pramuka, lalu diarak sejauh kurang lebih 7 km
Selain Butha Kale ternyata ada dua orang pelengkap memakai topeng yang menyerupai Butha Kale ikut menari-nari. Dua orang ini juga menjadi salah satu pusat perhatian setiap orang yang menonton. Kebanyakan anak-anak takut untuk mendekatinya.
Butha Kale di penghujung ritual harus dibakar. Maksudnya, agar seluruh kesialan yang mengikut bersamanya ikut terbakar.

sumber: http://www.baubaupos.com

| 0 komentar ]

Goraana Oputa atau Maludju Wolio merupakan akulutasi budaya dan Islam dalam menyambut kelahiran Nabi Muhamma SAW setiap malam 12 Rabiul Awal pukul 00.00 WITA hingga pukul 03.00 WITA dini hari. Maludju Wolio pada masa Kesultanan Buton selalu digelar di istana sultan. Kini digelar di Rujab Walikota Baubau.

sumber: baubaupos.com

| 3 komentar ]


Pada acara ritual puncak pesta adat tahunan Takimpo Lipuogena, Parabela selaku Ketua Adat memimpin acara yang diawali dengan pelepasan rombongan Ande-ande, Gilisoria, Lakadandio serta rombongan Kalambe yang akan berjalan mengelilingi kampung.
Ande-ande mengambarkan kelompok anak yang baru belajar merangkak dan masih berada dalam dekapan sang ibu. Hal tersebut disimbolkan dengan gerakan tangan sejajar dada dengan suara laksana bayi. Kelompok kedua yang disebut Gilisoria menggambarkan anak yang sudah dapat berjalan dan disimbolkan dengan gerakan tangan ke atas. Selanjutnya, kelompok ketiga yang disebut Lakadandio menggambarkan kelompok anak lelaki yang telah beranjak dewasa. Yang terakhir yaitu kelompok Kalambe, menggambarkan kelompok wanita yang telah dewasa
Empat rombongan yang dilepas oleh parabela mempunyai makna, kelak nantinya anak akan meninggalkan rumah. Prosesi pelepasan diiring dengan nasehat yang disebut Lakedo. setelah rombongan yang dilepas pergi mengelilingi kampung, mereka kembali ke Baruga. Kemudian Parabela dan pendampingnya yang disebut Waci menerima kembali keempat kelompok dan diberi nasehat kembali yang disebut "Lakedo".
Prosesi selanjutnya yaitu, Lawapulu yang berati dialog antara parabela dengan parabela pemuda, yang dimulai dengan mengucapkan salam penghormatan dengan tokoh adat dan tokoh agama. dua rangkaian ritual adat berturut-turut yang dilakukan yaitu lantun syair Ndo-ndo yang dilagukan oleh syara adat dan syara hukumu. Kemudian ritual Pidao'a yang dianalogikan proses jual beli. Prosesi ini dilakukan dengan tukar menukar barang (barter). Pelaksanaan prosesi ini dilaksanakan oleh kelompok kalambe. Ritual adat yang terakhir dilakukan yaitu Posanga'a yang artinya pamitan parabela Ana moane. Seluruh rangkaian pesta adat tersebut diadakan untuk menghimpun doa kepada maha kuasa agar saat musim tanam mendapat berkah dan hasil yang baik.

| 1 komentar ]


HONARI MOSEGA adalah tarian perang asli asal Liya, Kabupaten Wakatobi yang dahulu kala dijadikan sebagai tarian pengintai musuh yang diperkirakan mulai terjadi sejak pertengahan abad XI di pulau Oroho. Tarian ini dahulu kala dikembangkan oleh para Hulubalang dan Bajak Laut yang bermukim di pulau tersebut dalam rangka mempertahankan wilayah kekuasaan mereka dari para musuh yang akan memasuki daratan. Dan pengintaian ini akan nampak pada pasukan pengawal sejumlah 40 orang yang seluruhnya membawa tombak dengan hulu tajam, yang mana dikomandoi oleh seorang pembawa bendera berwarna kuning dengan memakai topi yang berhiaskan cermin. Antara isyarat yang diberikan oleh gerakan HORANI MOSEGA dengan prajurit pengawal 40 orang ini merupakan suatu kesatuan komando yang dinampakkan pada saat penghormatan para panari tersebut.
Dalam lingkungan keraton Liya penari HONARI MOSEGA ini pertama-tama menghadap ke Mesjid Agung Keraton Liya dan memberi hormat, kemudian setelah itu mulai teriak dan menari samnil membuka penghormatan arah Makam Leluhur sebelah utara dan melanjutkan gerakan tarian arah selatan dan diujung memberi hormat para penduduk dan kemudian melanjutkan kerakan menuju makam leluhur kembali sambil memberi hormat terakhir dilanjutkan bergerak menuju arah Baruga (tempat pertemuan Raja) dan menyerahkan katompide ditamsilkan barat mayat seorang yang sudah ditombak.
Katompide ditaruh ditanah sambil di beri perhatian 3 kali apakah mayat ini masih bergoyang atau tidak dan terus diawasi dengan bergerak mundur memutar melingkar dan maju kembali untk menonbak sambil mengambil tangkisan tersebut dan meloncat teriak dan berpaling dan menuju ke arah mesjid menombak sambil memutar dan terakhir memberi hormat.

Pada masa lalu sering tarian HONARI MOSEGA ini diserta dengan Makandara, yakni setelah penari memberi penghormatan terakhir, lalu masuklah pasulan SARA sebanyak 40 orang yang mengawal HONARI MOSEGA ini lalu mereka Makandara melakukan gerakan-gerakan silat layaknya peperangan melawan musuh lalu dilakukannya penikaman antara sesama pasukan dengan senjata tombak dan keris namun kesemua perlakuan ini tak ada satupun yang cedera dimakan oleh senjata tombak atau keris.
Pada kondisi demikian ini seluruh warga Liya yang sedang menonton semuanya lari kocar kacir menyembunyikan diri karena mereka merasa takut melihat ujung-ujung tombak yang dihantamkan pada dada atau perut seseorang dengan diserta bunyi namun orang yang ditombak tersebut tidak dimakan senjata tombak ibarat bunyi gemercingan besi diterima oleh tubuhnya. Namun perlakuan Makandara semacam ini masa kini sudah tidak lagi bisa dipakai mengingat ilmu-ilmu kebal sudah mulai agak funah di Liya dan Sara yang mempunyai kemampuan untuk mengatasi mara bahaya dari kagiatan ini sudah pada meninggal dunia.

Dalam tarian aslinya simbol-simbol gerakan diciptakan dengan tujuan dan maksud-maksud tertentu dan ketika itu hanya para perajurit pengawal 40 orang dan para hulubalang dan bajak laut yang mengetahui isyarat-isyarat itu untuk pemberian sebuah komando apakah menyerang atau menyambut lawan dengan baik.



| 3 komentar ]


Tarian ini menampilkan sejumlah simbol perilaku sosial masyarakat tradisional di Kabaena, salah satu pulau besar setelah Buton dan Muna di Provinsi Sulawesi Tenggara. Klimaks dari tarian ini adalah sebagian penari menghunus parang tajam, lalu batang-batang pisang pun rebah ke tanah!

Seperti kebanyakan seni tari tradisional yang masih orisinal, tarian lumense kurang mengeksplorasi tubuh melalui gerakan-gerakan yang dapat lebih mengekspresikan simbol-simbol keseharian masyarakat pendukung kesenian tersebut.

Gerak para penari hanya mengandalkan gerakan dasar dengan dukungan irama musik dari tetabuhan gendang dan bunyi gong besar (tawa-tawa) dan gong kecil (ndengu-ndengu). Namun, secara artistik, gerak tari lumense tetap memenuhi kriteria tontonan.

Terdapat tiga penabuh gendang, tawa-tawa, dan ndengu-ndengu yang bertugas membunyikan instrumennya, sebaris penari, dan anakan pohon pisang dalam jarak tertentu. Jumlah pohon disesuaikan dengan jumlah pemain ”putra”.

Kelompok penari lumense biasanya berjumlah 12 wanita muda: enam berperan sebagai pemain putra, dan sisanya sebagai putri. Semua pemain menggunakan busana adat Kabaena dengan rok berwarna merah maron. Baju atasnya hitam. Baju ini disebut taincombo, yang bagian bawah mirip ikan duyung.

Khusus para penari lumense, taincombo dipadu dengan selendang merah. Kelompok putra ditandai adanya korobi (sarung parang dari kayu) yang disandang di pinggang sebelah kiri. Parang atau ta-owu yang disarungkan di korobi dibuat khusus oleh pandai besi lokal dan selalu diasah agar matanya tetap tajam.

Tarian ini diawali gerakan-gerakan maju mundur, bertukar tempat, kemudian saling mencari pasangan. Gerakan mengalir terus hingga membuat konfigurasi leter Z, lalu diubah lagi menjadi leter S. Pada tahap ini ditampilkan gerakan lebih dinamis yang disebut momaani (ibing).

Pada saat itu tarian ini akan terasa amat menegangkan. Pasalnya, parang telah dicabut dari sarungnya dan diarahkan ke kepala penari putri sambil masih terus momaani. Dalam sekejap parang itu kemudian ditetakkan (ditebaskan) ke batang pisang. Dalam sekali ayun semua pohon pisang rebah bersamaan.

Tarian lumense ditutup dengan sebuah konfigurasi berbentuk setengah lingkaran. Pada episode ini para penari membuat gerakan tari lulo, dengan jari yang saling mengait sedemikian rupa sehingga telapak tangan masing-masing saling bertaut, lalu secara bersama digerakkan turun-naik untuk mengimbangi ayunan kaki yang mundur-maju.

Sekadar diketahui, tari lulo adalah tari pergaulan masyarakat Sultra di zaman modern ini. Tari yang dimainkan secara massal itu adalah tari tradisional masyarakat Tolaki di daratan jazirah Sultra, juga masyarakat Kabaena dengan perbedaan pola atau versi gerakan yang tipis.

Sebagian besar penduduk Pulau Kabaena sampai saat ini adalah petani tradisional. Membuka hutan untuk berladang atau berkebun adalah pola pertanian yang masih berlaku, terutama di pedalaman. Korobi atau sarung parang yang disandang penari ”putra” merupakan pengungkapan dari aktivitas keseharian masyarakat agraris yang masih tradisional itu.

Ada pula pihak-pihak yang menyebut tarian lumense tidak ramah lingkungan, itu hanya karena menampilkan adegan menebas pohon pisang. Namun, bagi masyarakat Kabaena, pohon pisang tidak bisa diganti dengan properti lain. Pasalnya, pohon pisang dipersonifikasikan sebagai bencana yang harus dicegah.

Bencana bisa dalam bentuk banjir, tanah longsor, wabah penyakit, dan kerusuhan sosial. Maka, ketika pohon pisang telah rebah, artinya bencana telah dapat dicegah, dan warga pun akan hidup dalam suasana yang aman dan tenteram.

Kekompakan dan rasa kekerabatan juga menjadi komitmen dalam kehidupan sosial masyarakat tradisional Kabaena. Hal itu disimbolkan dengan konfigurasi tarian massal lulo tadi.

Pada zaman dahulu (tarian) lumense ditampilkan dalam suatu acara ritual yang disebut pe-olia, yaitu penyembahan dalam bentuk penyajian aneka jenis makanan kepada roh halus agar roh halus yang disebut kowonuano (penguasa/pemilik negeri) berkenan mengusir segala macam bencana bagi ketenteraman hidup manusia. Penutup atau klimaks dari upacara sesajen tersebut adalah penebasan pohon pisang.

Tarian ini juga sering ditampilkan pada masa Kesultanan Buton. Kabaena dan Buton memiliki hubungan yang kuat dan tidak dapat dipisahkan karena Kabaena merupakan salah satu wilayah kesultanan Buton.