Orang Buton sejak jaman dulu sudah mengenal pertanian. Rongi merupakan sebuah desa yang umurnya sudah sangat tua. Lokasinya terletak sekitar 30 km dari pusat Kota Baubau. Desa ini terkenal sejak zaman dulu sebagai desa tempat hidup petani-petani tradisional yang memiliki kemampuan pertahanan pangan yang baik. Kebiasaan turun-temurun warga desa ini menyimpan bahan pangan bahkan
bisa menjadi pelajaran penting bagi Indonesia yang bertanah paling subur
di dunia, tapi tetap saja menjadi pengimpor beras
Karena kemarau yang panjang, kelaparan hebat pernah melanda seluruh
wilayah kesultanan Buton. Seluruh daerah di pulau penghasil aspal ini
kelaparan kecuali Rongi. Warga dari desa lain berdatangan ke desa itu
untuk menukar barang yang mereka bawa dengan makanan simpanan warga
Rongi. Karena kisah yang terus dikenang itu pulalah pemerintah setempat
pernah mengganti namanya menjadi Desa Sandang Pangan. Tapi Rongi tetap
saja jadi nama yang lebih populer sampai sekarang.
Kemampuan warga Rongi bertahan itu ternyata karena masyarakatnya
mengawetkan bahan makanan pokoknya, terutama jagung, dengan cara
mengasapi. Pasokan makanan yang ada di dalam gudang yang berada di
langit-langit rumah mereka setiap hari terkena asap dari dapur yang
terletak tepat di bawah gudang itu. Ingat pepatah sambil menyelam minum
air, maka warga Rongi memasak sambil mengawetkan cadangan jagung di
langit-langit rumah.
Memang dengan cara mengasapi persediaan makanan itu akan menghitami biji
jagung yang ditaruh di lumbung itu. Tapi jangan ditanya soal daya tahan
perbekalan. Ada biji jagung yang masih bisa dimasak dan dimakan dengan
rasa tidak berubah meski telah ditaruh di gudang selama 18 tahun!
Selain menaruh jagung di lumbung yang ada di langit-langit rumah, warga
desa itu juga menyimpan persediaannya yang lain seperti padi mereka di
bawah kolong rumahnya. Padi yang masih dalam bentuk gabah, masih
berkulit tahan terhadap kutu yang biasa menyerang beras. Ia juga tahan
terhadap cuaca dan binatang pengganggu karena ditutup kain rapat-rapat.
Padi yang mereka kembangkan itu adalah padi gunung. Mereka tidak
membawa pulang padi itu dalam karung seperti yang terlihat di persawahan
Sulawesi Selatan. Warga Rongi membawa padi panenan masih dengan
batang-batangnya dan diikat dalam ukuran tertentu. Seikat padi itu
biasanya kalau sudah dipisahkan dari batang dan kulitnya akan
menghasilkan sekitar 3 kilogram beras.
Untuk memisahkan kulit gabah, warga pun masih mengandalkan alu dan lesung.
Padi sebenarnya belakangan baru dikenal, ditanam, dan kini menjadi
makanan pokok warga Rongi. Dulu warga hanya mengenal jagung. Bahkan desa
yang berada di ketinggian 300-an meter dari permukaan laut itu menjadi
salah satu penghasil jagung di Pulau Buton. Tapi jagung hasil panen itu,
mereka simpan untuk keperluan makan sehari-hari saja. Jadi penghasilan
warga desa yang rerata pekebun itu didapat dari panenan tembakau, kacang
tanah, atau kemiri yang juga banyak ditanam di ladang-ladang mereka.
Selain cadangan makanan berlimpah tadi, setiap rumah di Rongi juga
memiliki banyak persediaan kayu bakar yang disimpan dan disusun di
kolong rumah. Pengumpulan kayu bakar yang dilakukan oleh kaum ibu-ibu
itu biasanya di musim kemarau untuk mengantisipasi persediaan kayu bakar
bila musim hujan tiba.
Warga desa yang berjumlah sekitar 1.600 jiwa itu pun mengatur diri mereka dalam menjaga persediaan air untuk desa itu. Sistem
Kaombo
(hutan larangan) yang dipegang teguh warga desa mengharuskan warga
tidak menebang pohon yang berada di radius 300 meter di sekitar daerah
aliran sungai (DAS). Kesadaran penduduk untuk menjaga hutan di Rongi
menunjukkan penghargaan tinggi mereka terhadap alam. Ukuran larangan
penebangan radius 300 meter ini bahkan melebihi aturan yang ditetapkan
pemerintah.
Jarak larangan tebang di sekitar DAS ini sendiri lebih jauh bila
dibanding dengan SK Menteri Kehutanan No353/Kpts-II/1986 tentang
Penetapan Radius/Jarak Larangan Penebangan Pohon dari Mata Air Tepi
Jurang, Waduk/Danau, Sungai dan Anak Sungai dalam Kawasan Hutan, Hutan
Cadangan dan Hutan Lainnya. Dalam pasal 2 butir 2 surat keputusan itu,
pemerintah melarang siapa pun menebang pohon yang berada di daerah
kiri-kanan sungai sekurang-kurangnya selebar 100 meter.
Manfaat sistem pengelolaan air itu dirasakan warga Rongi. Mereka
tidak pernah kesulitan air bersih. Mata air yang berada di lereng gunung
sekitar desa tak pernah kering meski musim kemarau melanda. Bahkan kini
air itu bisa mengalir lancar hingga ke rumah-rumah yang ada di Rongi
karena bantuan mesin pompa dari sebuah lembaga asing.
Cerita-cerita tentang ketahanan pangan di Desa Rongi ini pulalah yang
membuat saya tertarik menelusuri desa ini. Di Rongi terdapat benteng
yang mengelilingi permukiman pertama Rongi, yang dibangun di sekitar
zaman kesultanan Buton dulu, untuk melindungi warganya dari serbuan
tentara Tobelo. Benteng itu seakan menjadi lambang dan penanda bahwa
Rongi sejak dulu dikenal sebagai benteng sandang pangan kesultanan Buton
yang sudah melegenda. Peningalan sejarah berupa meriam naga dan dua pucuk senapan masih ada dikampung ini.
Hingga saat ini masyarakatnya masih memegang hukum adat dan tradisi leluhurnnya serta memiliki kelembagaan adat. Rongi juga merupakan salah satu daerah pasukan elit Kerajaan Buton karena Rongi adalah bagian utama Lapendewa. Rongi juga sebagai tempat berkedudukanya Bontona Baluwu bahkan rapat-rapat rahasia Kerajaan Buton sering dilakukan di Rongi. Masyarakat Rongi lintas generasi mengetahui betapa besar peran serta leluhurnya dalam sejarah perjuangan Buton. Dalam catatan Oputa Yi Koo salah satu yang membantu perjuangan gerlianya dalam mengusir Belanda adalah orang Rongi. Tak heran jika Rongi dikatakan desa yang penuh khasana budaya.
sumber: http://www.panyingkul.com/view.php?id=251
dokumentasi:
Zeth Oswald.